Rabu, 18 Februari 2009

Kamis, 04 September 2008

puisi Merdeka?

Merdeka?

Duhai Masa,
aku yang berkecamuk masih bersembunyi di labirin rasa,
menganalisa senja tak dapat jua kusalin makna
jika ada memang ada medeka
apakah rasa juga punya?

'Medio august'08

Prolog tak terbuang

Prolog Tak Terbuang

Kita kerap bersembunyi di labirin waktu

Sementara kisah membelukar seyogyanya kita benahi

Tapi terlalu pengecut kita haus restu

Sementara ladang kita terlalu gersang akannya

Aku ingin menatapmu

Menyanjungmu, mengagumimu sesungguhnya

Bukan hanya dalam kenangan pengembara yang singgah

dari satu kota ke kota lain, lalu mengumpulkannya menjadi fiksi sepertiga malam

Aku ingin menghitung keakraban yang tak terhitung, bodohkah?

Apakah harus denting yang seharusnya tak denting

Telah kulacurkan hatiku hingga idealisme mengalah tak kalah dalam mulianya mencintaimu, di benakku

Lalu kejalan mana lagi kita melangkah

Sementara labirin ini begitu panjang dan berkali-kali kita tersesat

Merindumu, adalah Prolog yang tak terbuang

Dalam drama yang seolah tak berkesudahan

(090607)

.

Puisi Medan

Medan
; adalah medan

Medankah, ialah medan arti sebuah medan bernama Deli
Medankah, ialah medan arti sebuah medan bernama Maimoon
Medankah, arti sebuah medan Lapangan merdeka, tak berubah medannya walau berubah panggilannya menjadi si manis- Merdeka Walk
Medanlah medan perjalanan yang menuntun langkahku menaiki Damri bergores karat sumpek mengantarku pada estafet Damri ber-Ac ber TV. Walau Sudako pintu belakang tetap lambat berjalan berisik bergoyanggoyang, tapi sampai jua ke tujuan.
Medanlah, ialah medan arti sebuah medan perumahan menjadi mall dan hotel tinggi julangmenjulang.
Medanlah, ialah medan arti sebuah medan bagi pengutip penjual butut, loakan, eceran becek pajak bengkok, sukarame, kampung lalang, hingga grosiran tauke-tauke yang kerap singgah di Kesawan.
Medanlah, ialah medan,-medannya pengalaman yang menuntun tanganku menanam jika hendak berkehendak menuai bijibiji pendidikan diatas medan.
Medan, ialah medan metropolitan tapi juga baku hantam dan persaingan yang memaksamu gigih jika tak pelak tersulap medanmu pengangguran bahkan tersingkirkan,-

Medan, ialah medan yang mengurai kenangan
Medan, ialah medan yang menyaksikan sejarah kemenangan atau kekalahan
Medan, ialah medan yang mendewasakan setiap perjalanan
Tapi medan tetaplah medan;
Yang tetap ingin menortor dan melayarkan lancang kuning berlayar malam,
di tengah lajunya medan yang berdisko dan huruhara hurahura

Medan, 180808

Hujan

Dari kaca jendela aku nelangsa,
seperti bumi menangisi hari-hari jatuh hari-hari keruh
Pada resah angin aku mengadu tentang ceracau tanah yang gelisah,
sementara air beberapa kali telah merambah merayap di matakaki rumah-rumah
Nun, tetap ingin kudefinisikan airmara itu rahmah dari pemiliknya.

Medan, penghujan 2o-july'08

About me; ilmi

Nur Hilmi Daulay,S.S. Lahir di Medan 11 mei 1984. Almamater Sastra Inggris Unimed ini tinggal di Jl. Sunggal No. 345 B Medan , 20128. Aktif menulis sejak SLTP di Pondok Pesantren Puteri Galih Agung Darul Arafah dan mengisi mengisi Mading LTh Dyah Post. Pernah sebagai Juara I Lomba Mengarang dengan tema Ramadhan di Pondok tersebut. Selama mahasiswa, merupakan anggota Pers Kampus Kreatif Unimed. Pernah menjadi Juara II Lomba cipta puisi Online II & Juara harapan III Lomba cipta puisi online IV tingkat mahasiswa se- Sumatera, Juara I lomba cipta puisi tingkat mahasiswa kerjasama teater Blok dan harian Analisa, Juara III lomba cipta dan baca Puisi Teater Sisi UMSU. Puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai surat kabar di Medan seperti Mimbar Umum, Analisa, Waspada, Warta Madina dan Majalah Kampus Kreatif. Puisinya diikutsertakan dalam Antologi puisi bersama Pesta Penyair Indonesia. Antologi Puisi Launc di Jambi dengan judul Gemuruh; Pada Pemilik TeguhSbagai staff pengajar di Yayasan Pendidikan Panca Budi dan gajah Mada Medan