Kamis, 04 September 2008

Prolog tak terbuang

Prolog Tak Terbuang

Kita kerap bersembunyi di labirin waktu

Sementara kisah membelukar seyogyanya kita benahi

Tapi terlalu pengecut kita haus restu

Sementara ladang kita terlalu gersang akannya

Aku ingin menatapmu

Menyanjungmu, mengagumimu sesungguhnya

Bukan hanya dalam kenangan pengembara yang singgah

dari satu kota ke kota lain, lalu mengumpulkannya menjadi fiksi sepertiga malam

Aku ingin menghitung keakraban yang tak terhitung, bodohkah?

Apakah harus denting yang seharusnya tak denting

Telah kulacurkan hatiku hingga idealisme mengalah tak kalah dalam mulianya mencintaimu, di benakku

Lalu kejalan mana lagi kita melangkah

Sementara labirin ini begitu panjang dan berkali-kali kita tersesat

Merindumu, adalah Prolog yang tak terbuang

Dalam drama yang seolah tak berkesudahan

(090607)

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar