Kamis, 04 September 2008
puisi Merdeka?
Duhai Masa,
aku yang berkecamuk masih bersembunyi di labirin rasa,
menganalisa senja tak dapat jua kusalin makna
jika ada memang ada medeka
apakah rasa juga punya?
'Medio august'08
Prolog tak terbuang
Prolog Tak Terbuang
Kita kerap bersembunyi di labirin waktu
Sementara kisah membelukar seyogyanya kita benahi
Tapi terlalu pengecut kita haus restu
Sementara ladang kita terlalu gersang akannya
Aku ingin menatapmu
Menyanjungmu, mengagumimu sesungguhnya
Bukan hanya dalam kenangan pengembara yang singgah
dari satu
Aku ingin menghitung keakraban yang tak terhitung, bodohkah?
Apakah harus denting yang seharusnya tak denting
Telah kulacurkan hatiku hingga idealisme mengalah tak kalah dalam mulianya mencintaimu, di benakku
Lalu kejalan mana lagi kita melangkah
Sementara labirin ini begitu panjang dan berkali-kali kita tersesat
Merindumu, adalah Prolog yang tak terbuang
Dalam drama yang seolah tak berkesudahan
(090607)
.
Puisi Medan
; adalah medan
Medankah, ialah medan arti sebuah medan bernama Deli
Medankah, ialah medan arti sebuah medan bernama Maimoon
Medankah, arti sebuah medan Lapangan merdeka, tak berubah medannya walau berubah panggilannya menjadi si manis- Merdeka Walk
Medanlah medan perjalanan yang menuntun langkahku menaiki Damri bergores karat sumpek mengantarku pada estafet Damri ber-Ac ber TV. Walau Sudako pintu belakang tetap lambat berjalan berisik bergoyanggoyang, tapi sampai jua ke tujuan.
Medanlah, ialah medan arti sebuah medan perumahan menjadi mall dan hotel tinggi julangmenjulang.
Medanlah, ialah medan arti sebuah medan bagi pengutip penjual butut, loakan, eceran becek pajak bengkok, sukarame, kampung lalang, hingga grosiran tauke-tauke yang kerap singgah di Kesawan.
Medanlah, ialah medan,-medannya pengalaman yang menuntun tanganku menanam jika hendak berkehendak menuai bijibiji pendidikan diatas medan.
Medan, ialah medan metropolitan tapi juga baku hantam dan persaingan yang memaksamu gigih jika tak pelak tersulap medanmu pengangguran bahkan tersingkirkan,-
Medan, ialah medan yang mengurai kenangan
Medan, ialah medan yang menyaksikan sejarah kemenangan atau kekalahan
Medan, ialah medan yang mendewasakan setiap perjalanan
Tapi medan tetaplah medan;
Yang tetap ingin menortor dan melayarkan lancang kuning berlayar malam,
di tengah lajunya medan yang berdisko dan huruhara hurahura
Medan, 180808
Hujan
seperti bumi menangisi hari-hari jatuh hari-hari keruh
Pada resah angin aku mengadu tentang ceracau tanah yang gelisah,
sementara air beberapa kali telah merambah merayap di matakaki rumah-rumah
Nun, tetap ingin kudefinisikan airmara itu rahmah dari pemiliknya.
Medan, penghujan 2o-july'08
